FENOMENA HUMAN TRAFFICKING DI ASIA TENGGARA
Author : H Obsatar
Sinaga
Publication date : 2011
Perdagangan manusia berbeda dengan penyelundupan. Pada penyelundupan,
orang-orang yang diselundupkan umumnya meminta bayaran dari para penyelundup, sedangkan
dalam kasus perdagangan manusia, umumnya terjadi penipuan sehingga korban tidak
mendapatkan timbal balik apapun. Dalam penyelundupan, orang-orang yang
diselundupkan tidak diberi kewajiban apapun, dalam arti mereka datang ketempat
tujuan secara cuma-cuma. Sedangkan para korban trafficking mengalami perbudakan
yang merugikan saat mereka sampai di tempat tujuan. Umumnya para korban
Trafficking adalah orang-orang yang mudah terbujuk oleh janji-janji palsu sang
traffickers. Beberapa Traffickers menggunakan taktik-taktik manipulatip untuk
menipu korbannya diantaranya dengan intimidasi, rayuan, pengasingan, ancaman,
penyulikan dan penggunaan obat-obatan terlarang
Komentar :
Penyulundupan manusia merupakan masalah yang sering terjadi di Asia
karena secara global memperbolehkan pergerakan manusia lintas Negara.
Tapi system pengawasan yang lemah menyebabkan maraknya terjadi penyelundupan
manusia ke beberapa Negara tujuan. Penyelendupan manusia dan Human Trafficking
sangat erat kaitannya. Karena korban pedagangan menusia sebagian besar dari
mereka pasti di selundupkan ke Negara lain.
Banyak dari Korban Human Trafficking terjebak dengan rayuan trafficker
karena menganggap daerah atau tujuan trafficking merupakan daerah yang lebih
baik dan dapat merubah nasib mereka ketika tidak mendapat kelayakan hidup
tinggal di tempat asalnya.
Kemudahan akses dalam bekerja juga menjadi factor utama korban antusias
untuk bekerja di tempat lain dengan iming-iming gaji yang besar.
Hal tersebut tidak berbanding dengan pengetahuan ataupun dasar
pendidikan yang seharusnya dimiliki oleh calon tenaga kerja asing ataupun
professional.
Orang-orang
yang dijual umumnya berasal dari daerah miskin dimana peluang untuk mendapatkan
penghasilan amat terbatas. Bisa juga mereka berasal dari korban pengungsian
atau orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Kebanyakan dari mereka
masuk ke negara lain dibawa oleh traffickers melalui perbatasan. Karena kontrol
yang kurang diperbatasan inilah, mereka bisa dengan leluasa lolos dan masuk ke
negara tersebut
Komentar :
Derah miskin dan
terpencil biasanya memiliki system pemerintah yang kurang dalam mengembangkan
sumberdaya manusia. Hal tersebut membuat control social yang sangat kurang
mengenai Human Trafficking. Lapangan kerja yang terbatas tidak memacu
masyarakat sekitar untuk memiliki pendidikan dan pengentahuan yang tinggi.
Sehingga cara
pandang warga di pedesaan sangat sempit dan mudah tergiur dengan janji yang di
tawarkan trafficker. Tidak adanya public figure atau panutan mereka yang
menganggap pendidikian tidak penting bagi kehiduapn mereka.
Berbeda dengan
daerah lain yang banyak terjadi konflik, sehingga tidak ada pilihan lain bagi
mereka untuk dijadikan budak. Meski banyak kekerasan yang mereka dapatkan.
Pemerintah seakan menutup mata dengan jari yang terbuka mengenai control di
daerah perbatasan. Banyaknya oknum dari pemerintah membuat bisnin Human
trafficking ini semakin merajalela.
Sebagian besar
korban perdagangan manusia adalah wanita. Mereka dijual untuk menjadi pekerja
seks komersial. Para Traffickers umumnya menjanjikan para wanita tersebut
peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus, atau kesempatan untuk belajar
di luar negeri. Kemudian, mereka akan memaksa korbannya untuk menjadi pekerja
seks atau terjun ke dunia pornografi. Melalui agen perjalanan, mereka akan
dikirim ke tempat tujuan. Kemudian sesampainya disana, para korban tersebut
baru akan menyadari bahwa mereka telah ditipu dimana pekerjaan yang akan mereka
lakukan dan gaji yang mereka dapatkan umumnya tidak sama dengan apa yang
dijanjikan sebelumnya. Mereka juga akan ditempatkan pada situasi dimana tidak
ada peluang untuk melarikan diri.
Komentar :
Sempitnya
lapangan pekerjaan dan kemiskinan khusus nya di daerah membuat laki-laki idak
memiliki power untuk melindungi saudara wanita, anak ataupun istri. Sehingga
banyak wanita yang mengambil alih tanggung jawab untuk mencari nafkah untuk
keluarga. Dengan keterbatasa pengetahuan dan keahlian membuat para wanita ini
menghalalkan segala cara, termasuk mudah terbujur rayuan trafficker.
Sebagian dari
wanita yang menjadi korban trafficking bukan berarti tidak sama sekali
mengetahui resiko yang di ambilnya. Namun beban hidup dan putus asa yang
akhirnya membuat mereka percaya pada
trafficker yang mereka anggap dapat merubah nasib mereka lebih baik . Bahkan
rela harus berpisah dengan sanak saudara.
Faktor lain yang
membuat wanita mudah tergiur dengan rayuan para trafficker adalah dengan adanya
contoh seperti kerabat ataupun tetangga yang memang sukses mengadu nasib di
kota-kota besar atau bekerja di luar negeri seperti TKW. Hal inilah yang
menambah daftar wanita menjadi korban Human Trafficking.
Bahkan saya
memiliki tetangga di sebuah kampung di kabupaten Subang yang menjadi korban
Human Trafficking yang rela membayar
terlebih dahulu membayarkan sejumlah uang kepada sebuah agen perjalanan yang
dapat menyalurkan TKW ke Timur Tengah. Dengan dijanjikan bekerja sebegai
Asisten Rumah Tangga, namun oknum dari agen perjalanan korban tersebut dijual
kepada agen illegal yang ada Timur Tengah. Korban dipaksa bekerja tanpa
mendapatkan upah dan disiksa jika tidak mau bekerja. Tidak ada peluang untuk
melarikan diri.
Hingga akhirnya
masa kerja nya selesai dia dikembalikan ke Indonesia dengan kurang layak
menggunakan kapal laut dan harus singgah di ke bergai Negara terlebih dahulu.
Karena tidak adanya uang dia terpaksa harus melacurkan diri kepada awak kapal
laut dan petugas yang dapat membawanya pulang ke Indonesia.
Masih banyak
korban Human Trafficking yang terjadi di sekitar kita, seperti kisah TKW asal
Indramayu yang akan di hukum pancung karena dituduh menyantet majikannya di
Timur Tengah.
Di sisi
permintaan, faktor-faktor yang membawa pada perdagangan manusia mencakup
industri seks, dan permintaan akan tenaga kerja yang dapat dieksploitasi.
Pariwisata seks dan pronografi anak telah menjadi industri dunia luas, yang
difasilitasi oleh teknologi seperti internet, yang secara berlebihan memperluas
pilihan-pilihan yang tersedia bagi para pelanggan dan memungkinkan adanya
transaksi yang cepat dan hampir tidak terdeteksi. Perdagangan manusia juga
ditimbulkan oleh adanya permintaan global atas tenaga kerja yang murah, rentan,
dan ilegal. Misalnya, salah satu permintaan terbesar di negara-negara makmur
Asia Timur adalah pelayan rumah tangga yang terkadang menjadi korban
eksploitasi atau kerjapaksa.
Komentar :
Maraknya Human
Trafficking ini terjadi karena banyaknya permintaan yang dapat mengeksploitasi
manusia dengan mudah. Human trafficking sulit untuk di hilangkan jika memang
banyaknya permintaan. Dalam kasus ini semakin banyak permintaan maka akan
semakin banyak pula Human trafficking ini terjadi. Perkembangan ilmu teknologi
saat ini di manfaatkan oleh mengembangkan bisnis nya seperti prostitusi dan penjualan organ tubuh manusia.
Ditutup
lokalisasi di berbagai daerah oleh pemerintah,
seperti Saritem di Bandung, Gang Doli di Surabaya dan Kalijodo di Jakarta. Tidak menutup sepenuhnya
bisnis prostitusi tersebut. Belakangan ini kerap terjadi prostitusi online di
kota-kota besar. Sebagai alternative untuk menutupi tingginya permintaan bisnis
seks. Hal tersebut membuka peluang trafficker untuk
mengembangkan sayapnya dalam mencari korban.
Selain itu maraknya
penculik anak yang terjadi belakangan ini, sangat erat kaitannya denga Human
Trafficking. Penjualan organ secara terang terangan dapat kita temukan. Tentu
hal tersebut adalah hal yang sangat menggiurkan bagi orang yang menghalalkan
segala cara untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.
Maraknya
permintaan tenaga kerja illegal menyebabkan agen perjalanan nakal kian
bermunculan. Komunikasi dan kepedulian dari lingkungan sekitar dapat mencegah
terjadinya human trafficking, pra korban terbuai karena adanya ketidak
fahamanan dengan prosedur yang harus ditempuh dan mudahnya prosedur yang harus
dijalani.
Malaysia juga menjadi negara tujuan dari para korban perdagangan
manusia baik laki-laki dan perempuan yang berasal dari Indonesia, Thailand,
Filipina, Kamboja, Vietnam, Burma, RRC, India, Nepal, Bangladesh, dan Pakistan.
Mereka datang ke Malaysia untuk bekerja disektor industri, konstruksi dan
agrikultur. tetapi ada juga diantara mereka yang menjadi pekerja seks
komersial. NGO Malaysia yang bernama Tenaganita melaporkan bahwa 65% korban
perdagangan manusia di Malaysia dipekerjakan menjadi tenaga kerja paksa.
Komentar :
Isu perdagangan manusia merupakan kasus yang sangat komplek dan terjadi
hamper di berbagai negra, baik Negara yang banyak dijadikan korban perdangan
manusia ataupun tujuan dari Human Trafficking tersebut. Kasus ini sudah
mendunia dan terjadi di beberapa Negara yang bisa dibilang sudah maju seperti
Malaysia.
Malaysia merupakan detinasi tujuan perdagangan manusia dikarenakan
kesejahteraan Ekonomi dan letak geografisnya yang merupakan Negara transit.
Pada umumnya korban dijanjikan akan bekerja di restaurant, ataupun sebagai
asisten rumah tangga. Tapi pada kenyataannya banyak dari korban Human
Trafficking yang bekerja sebagai pekerja seks atau pun menjadi buruh dengan
upah yang sangat murah.
Tenaga kerja dari Indonesia banyak yang mengadu nasib di Malaysia
justru malah mendapatkan kehidupan yang tidak layak, tidak hanya itu kita juga
bisa menemukan banyak pekerja seperti dari Bangladesh, Nepal, Filipina, dan
Negara lain yang justru hidup tidak menentu di Malaysia yang memaksa mereka
berkerja dengan upah murah ataupun bekerja di tempat hiburan malam.
Sebanyak 2,7 juta manusia dari seluruh dunia masuk ke Malaysia lewat
penyelendupan illegal untk di bkerja di Malayasia. Dan diketahui 80% nya adalah
anak-anak dan wanita.
Seperti yang terjadi pada tenaga kerja asal Indonesia berusia 25 tahun,
Siti Aisyah yang malah terseret kepada kasus pembunuhan Kim Jong Nam, dalam
kasusini Siti Aisyah bukan korban
Perdagangan Manusia namun kasus seperti ini patut di soroti oleh pemerintah
karena kemudahan seseorang bekerja di luar negeri tanpa di bekali pengetahuan
dan keahlian yang mumpuni malah akan menjadi boomerang tersendiri.
Meski telah ada upaya oleh kerajaan Malaysia, namun kasus perdagangan
manusia ini seolah alot untuk di hapuskankan di Negara kerajaan tersebut. Pemerintah
Malaysia telah mencatat 100 kasus perdagangan manusia yang terjadi sepanjang
tahun 2016. Terjadi peningkatan perdagangan manusia jika dibandingkan tahun
sebelumnya.
Adapun daerah yang rawan penyelundupan Manusia terjadi di daerah
perbatasan, terutama di Kedah dan Perlis , daerah yang berbatasan langsung
dengan Thailand.
izin menjadi referensi teh, isinya sungguh sangat bagus...
BalasHapusdengan senang hati Opik,,, minta masukannya ya...
Hapus